itoday.id | Serang – Aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan, dan pendaki diminta tidak mendekati kawasan gunung api tersebut maupun beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Informasi itu disampaikan Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau, Deny Mardiono, dalam laporan periode pengamatan Rabu (8/7/2026) pukul 06.00-12.00 WIB yang dipublikasikan melalui laman resmi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Dalam laporan tersebut disebutkan, secara administratif Gunung Anak Krakatau berada di wilayah Kabupaten Lampung Selatan dengan ketinggian sekitar 157 meter di atas permukaan laut.
Selama periode pengamatan, kondisi cuaca di sekitar gunung dilaporkan berawan dengan angin lemah mengarah ke barat laut. Suhu udara berkisar 27,1-31,9 derajat Celsius dengan kelembapan 55-74 persen.
Secara visual, gunung terlihat jelas hingga tertutup kabut level 0-III. Asap dari kawah utama teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis, sedang, sampai tebal dengan ketinggian sekitar 10-250 meter di atas puncak.
Sementara itu, hasil pemantauan kegempaan mencatat terjadi lima kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo 35-50 milimeter dan durasi 13-42 detik. Selain itu, terekam satu kali gempa tremor menerus dengan amplitudo 2-28 milimeter.
“Berdasarkan hasil pemantauan, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III (Siaga),” tulis Deny dalam laporannya.
PVMBG merekomendasikan masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau, termasuk pengunjung dan wisatawan, tidak memasuki wilayah dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung. Warga juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya berupa awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, hingga hujan abu lebat.
Meski demikian, masyarakat yang berada di wilayah pesisir Banten dan Lampung diminta tetap tenang dan tidak mudah percaya terhadap isu yang menyebut erupsi Gunung Anak Krakatau akan memicu tsunami.
“Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan jangan mempercayai isu-isu tentang erupsi Gunungapi Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami, serta dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat,” tulis Deny.
Senada, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian Kabupaten Serang, Surtaman, mengimbau masyarakat agar lebih bijak menerima informasi terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau maupun isu cuaca dan kebencanaan lainnya.
Ia meminta masyarakat selalu memeriksa kebenaran informasi melalui sumber resmi sebelum menyebarkannya.
“Cek sumber pemberitaannya terlebih dahulu untuk memastikan informasi tersebut fakta atau hoaks. Selalu kunjungi website resmi lembaga terkait untuk memastikan kebenarannya, jangan langsung dibagikan sebelum diklarifikasi,” kata Surtaman.
Sebagai informasi, Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A yang berada di perairan Selat Sunda. Pemantauan aktivitasnya dilakukan melalui dua pos pengamatan, yakni di Kalianda, Lampung Selatan, dan Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.
Gunung ini memiliki sejarah panjang aktivitas vulkanik, termasuk erupsi besar Krakatau pada 1883 yang memicu tsunami, serta longsoran tubuh Gunung Anak Krakatau pada 22 Desember 2018 yang juga menyebabkan tsunami di kawasan Selat Sunda. Sejak itu, aktivitas erupsi berskala rendah sempat berlangsung hingga Desember 2023 dan kini masih menunjukkan aktivitas magmatik berenergi rendah.

















