itoday.id | Serang . Permasalahan sampah terus menjadi tantangan bagi berbagai daerah di Indonesia, termasuk Kabupaten Serang. Volume sampah yang terus meningkat membutuhkan solusi baru lebih modern, lebih berkelanjutan, dan mampu memberi manfaat jangka panjang. Di tengah kebutuhan mendesak tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang bergerak cepat menjemput peluang melalui program Pengelolaan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang didukung Kementerian Lingkungan Hidup.
Wakil Bupati Serang, Muhammad Najib Hamas, memimpin langsung perjalanan studi tiru yang dimulai di Kota Surakarta. Pada pertemuan bersama Sekda Surakarta, Budi Murtono, dan jajaran DLH, rombongan berbincang panjang mengenai skema kemitraan pemerintah daerah dengan pihak ketiga dalam pengelolaan sampah.
Hari berikutnya, rombongan melanjutkan perjalanan ke Surabaya, tepatnya ke TPA Benowo, lokasi yang telah sukses menyulap gunungan sampah menjadi sumber energi listrik. Di sinilah rombongan disambut manajemen PT Sumber Organik dan diajak melihat langsung mesin Gasifikasi yang bekerja mengolah 1.000 ton sampah per hari menjadi energi.
Najib menyebut, baik Solo maupun Surabaya menerapkan pola serupa: kerja sama pemerintah dengan pihak ketiga melalui teknologi bioteknologi. Namun, ada satu syarat mutlak—pemerintah daerah harus menjamin pasokan sampah harian minimal 1.000 ton.
Berdasarkan hasil studi, Pemkab Serang menargetkan pembangunan PSEL mulai dilakukan pada 2026 di Desa Angsana, Kecamatan Mancak. Proses pengurusan lahan, penyesuaian tata ruang, hingga penyiapan armada pengangkut sampah sudah masuk agenda percepatan.
Menurut Sekda Serang, Zaldi Dhuhana, tahun ini Pemkab akan menambah lebih dari 40 armada baru dan akan kembali ditambah tahun depan. Semua ini untuk memastikan bahwa ketika PSEL beroperasi pada tahun 2028–2029, pasokan sampah tidak menjadi kendala.
Meski PSEL disiapkan sebagai solusi modern, Pemkab Serang menegaskan bahwa pemilahan sampah dari rumah tangga tetap menjadi bagian penting. Melalui bank sampah, TPS, hingga edukasi ibu hamil tentang pola hidup bersih, pemerintah ingin memastikan sistem pengelolaan sampah bekerja dari hulu ke hilir.
“Masyarakat harus menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar penonton,” tegas Najib.
Plt Kepala DPUPR Serang, Okeu Oktaviana, mengaku kagum dengan konsep TPA Benowo yang lebih terasa seperti kawasan industri energi daripada tempat pembuangan. Dari pengamatannya, Kabupaten Serang yang menghasilkan sekitar 1.030 ton sampah per hari sudah sangat siap menuju transformasi besar ini.
Dengan dukungan pemerintah provinsi, kolaborasi lintas OPD, serta keterlibatan masyarakat, Pemkab Serang optimis PSEL dapat menjadi tonggak baru pengelolaan sampah dan energi masa depan. (ADV)

















