itoday.id | Serang – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Serang bersama sejumlah instansi melakukan pengawasan pangan selama Ramadan. Hasilnya, dari puluhan sampel yang diuji, ditemukan tiga produk positif mengandung zat berbahaya di Pasar Induk Rau, Kota Serang. Selasa (3/3).
Kepala Balai Besar POM Serang, Fauzi Ferdiansyah, mengatakan pengawasan dilakukan bersama Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan, serta Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditkrimsus) Polda Banten.
“Selama bulan Ramadan kami melakukan identifikasi dan pengawasan pangan. Kami turun langsung bersama tim dari balai besar di Serang dan instansi terkait,” kata Fauzi.
Ia menjelaskan, pemeriksaan dilakukan langsung di Pasar Induk Rau dengan mengambil 33 sampel makanan untuk diuji. Dari jumlah tersebut, tiga sampel dinyatakan positif mengandung bahan berbahaya.
“Dari 33 sampel yang kami ambil, ada tiga yang positif. Mie kuning positif mengandung formalin, teri Medan positif formalin, dan kerupuk melarat positif Rhodamin B,” ujarnya.
Menurutnya, bahan-bahan tersebut tidak boleh digunakan dalam produk pangan karena berisiko membahayakan kesehatan. Adapun sampel lain yang diperiksa di antaranya tahu, cincau, sotong, bakso, jajanan anak, dan sejumlah makanan lainnya.
BPOM Serang, akan menindaklanjuti temuan tersebut dengan memberikan peringatan kepada pedagang agar tidak lagi menjual produk yang mengandung zat berbahaya. Jika masih ditemukan pelanggaran, pihaknya akan menarik dan mengamankan barang tersebut.
“Kami juga akan melakukan penelusuran ke tempat produksi. Jadi akan dihentikan dari sumbernya, sehingga pedagang di Pasar Rau tidak lagi menjual produk tersebut,” tegasnya.
Fauzi mengingatkan, konsumsi makanan yang mengandung formalin maupun Rhodamin B dapat menimbulkan berbagai dampak kesehatan. Mulai dari reaksi alergi, gangguan pencernaan, kerusakan hati dan ginjal, hingga memicu kanker. Dalam kondisi tertentu, zat berbahaya tersebut bahkan bisa menyebabkan kematian.
Ia menambahkan, dibandingkan tahun lalu, jumlah temuan tahun ini mengalami penurunan signifikan. “Tahun lalu cukup banyak yang positif dan hampir semua sampel bermasalah. Setelah kami lakukan pembinaan, tahun ini sebagian besar sudah negatif,” katanya.
Fauzi mengimbau, masyarakat agar lebih berhati-hati dalam memilih makanan, baik untuk sahur maupun berbuka puasa.
“Kami mengimbau masyarakat agar selektif memilih makanan supaya ibadah puasa tetap sehat dan tidak terganggu,” pungkasnya.

















