itoday.id | Semarang. Indonesia kehilangan ulama besar, KH Dimyati Rois atau yang akrab disapa Abah Dim. Kabar duka kepergian pengasuh Pesantren Al-Fadlu wal Fadilah itu, menjadi trending topic di berbagai media social. Di google trend, Jumat hingga pukul 10 siang, kabar duka itu, sudah dibaca hingga 5.000 klik.
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut, meninggal dalam usia 77 tahun, di Rumah Sakit Telogorejo, Semarang, Jawa Tengah, Kamis 9 Juni 2022, lewat tengah malam.
Sebelum menghembuskan napas terkhir, tim medis berjibaku menolong keselamatan jiwanya akibat gangguan jantung yang diderita. “ Namun, ternyata Allah berkehendak lain. Akhirnya beliau mengembuskan napas terakhir pada pukul 00.30,” kata salah seorang kerabatnya, Dodi Romeo.
Tokoh agama karismatik dan orator ulung yang sering membius massa itu, dilahirkan di Bulakamba, Brebes, 5 Juni 1945. Tokoh ini juga dikenal sebagai orang yang bersahaja dan senantiasa memenuhi undangan untuk mengisi nasehat ceramah agama di berbagai tempat, khususnya di daerah Jawa Tengah.
Karena pengaruhnya yang besar itu pula, menyebabkan kediamannya selalu menjadi persinggahan banyak tokoh nasional. Kiai Dimyati dikenal dekat dengan Matori Abdul Djalil, Ketua Umum pertama Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Sebagai seorang ulama, Kiai Dimyati memiliki kepribadian yang sangat baik dan penuh kesederhanaan. Baik dengan para pengikut (santrinya) maupun dengan masyarakat yang lain. Kesederhanaannya ditunjukkan dengan berpakaian yang sederhana dan dia juga tidak akan makan apabila tidak benar-benar lapar.
Salah satu kelebihan yang tidak banyak dimiliki kiai lain, adalah kemampuannya dalam kewirausahaan. Tak hanya mengajar mengaji, ia memiliki berbagai usaha yang menghasilkan uang sekaligus melatih para santrinya untuk bisa berwirausaha, terutama dalam bidang pertanian dan perikanan.
Beliau merupakan salah seorang putra dari pasangan KH Rois dan Nyai Djusminah dan pernah mondok di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Selain itu, beliau juga pernah menjadi santri dari KH Zubair, ayahanda dari KH Maimoen Zubair di Pesantren Sarang, Rembang, Jawa Timur.
Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan ucapan duka cita atas wafatnya Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut. “Innailiahi wa innailahi rajiun. Saya atas nama pribadi, bangsa, dan negara, mengucapkan duka cita yang mendalam atas berpulangnya ulama kharismatik Bapak KH. Dimyati Rois pada hari Jumat 10 Juni 2022,” kata Jokowi melalui Youtube Sekretariat Presiden, Jumat 10 Juni 2022.
Menurut Jokowi, dia mengenal almarhum sebelumnya pada Mukmatar NU ke 34 di Lampung tahun 2021. Saat itu, beliau terpilih sebagai salah satu dari sembilan Anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Ia mendapatkan suara terbanyak pada saat itu, yakni 503 suara. Bersama delapan kiai lainnya, ia menentukan Rais Aam Syuriyah PBNU.
Alamarhum, lanjut Jokowi, merupakan sosok teladan bagi semua umat Islam untuk memupuk kemandiran di bidang ekonomi. “Mari kita doakan Abah Dim, mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT,” ucap Jokowi.
Sebagai tambahan informasi, pada Muktamar Ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur Tahun 2015, Kiai Dimyati juga terpilih sebagai salah satu dari sembilan Anggota Ahwa PBNU. (Red)

















