Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
ADV ITODAY
NewsOpinionPemerintahan

Haru Siswa Pandeglang Penerima Sekolah Gratis Banten, Saya Ingin Memeluk Gubernur

×

Haru Siswa Pandeglang Penerima Sekolah Gratis Banten, Saya Ingin Memeluk Gubernur

Sebarkan artikel ini
Haru Siswa Pandeglang Penerima Sekolah Gratis Banten, Saya Ingin Memeluk Gubernur
Example 468x60

itoday.id | Pandeglang –  Air mata haru tak terbendung dari Mata Abdoel Hafidz (16) saat menceritakan kesempatan yang kini dimilikinya untuk tetap bersekolah melalui Program Sekolah Gratis Pemerintah Provinsi Banten. Remaja asal Kampung Cilaja, Kelurahan Cilaja, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang itu mengaku ingin memeluk Gubernur Banten Andra Soni sebagai ungkapan rasa syukur karena cita-citanya dapat terus diperjuangkan.

“Saya ingin memeluk gubernur dan mengucapkan terima kasih. Karena sekolah gratis ini, saya tetap bisa sekolah dan ayah saya tidak lagi memikirkan biaya sekolah saya,” ujar Hafidz, Kamis (16/7).

Example 300x600

Ucapan tersebut lahir dari perjalanan hidup yang tidak mudah. Sekitar 80 hari lalu, Hafidz kehilangan ibunya yang meninggal dunia setelah berjuang melawan gagal ginjal. Sejak September 2025, ia hampir setiap hari mendampingi sang ibu menjalani pengobatan di RS Seruni Harfiah Lestari (SHL) Pandeglang hingga dirujuk ke RSUD Banten di Kota Serang.

Dokter menyatakan ibunya mengalami penyumbatan pembuluh darah dan gagal ginjal sehingga harus menjalani cuci darah secara rutin. Kepergian sang ibu mengubah kehidupan Hafidz.

Kini ia tinggal bersama adik laki-lakinya yang baru duduk di bangku kelas I SMP. Sementara ayahnya, Yadi Sugianto, bekerja sebagai buruh harian lepas di proyek bangunan di Tangerang sehingga hanya dapat pulang setiap dua pekan, bahkan terkadang sebulan sekali.

Kebutuhan sehari-hari Hafidz dan adiknya dibantu paman serta bibi yang tinggal di belakang rumah. Adapun biaya hidup dikirim ayahnya melalui rekening milik almarhum ibunya yang kini dikelola Hafidz untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus biaya sekolah adiknya.

Meski berada dalam keterbatasan, Hafidz tidak kehilangan semangat untuk belajar. Saat masih duduk di bangku SMP, ia aktif mengikuti kegiatan sekolah dan dipercaya menjadi bendahara Pramuka. Di luar sekolah, ia juga bergabung dengan salah satu sanggar Rampak Bedug di Pandeglang sebagai bentuk kecintaannya terhadap seni budaya daerah.

Namun, impiannya untuk melanjutkan pendidikan sempat terancam setelah gagal diterima di SMA Negeri 6 Pandeglang melalui jalur domisili.

“Saya sempat bingung mau sekolah di mana,” katanya.

Kondisi itu juga menjadi kekhawatiran bagi sang ayah. Dengan penghasilan sebagai buruh bangunan, biaya pendidikan di sekolah swasta dinilai cukup berat.

Harapan kemudian datang ketika Hafidz memperoleh informasi bahwa SMK PGRI Pandeglang menjadi salah satu sekolah yang mengikuti Program Sekolah Gratis Pemprov Banten. Dengan bantuan pamannya, Hafidz akhirnya mendaftar dan diterima di sekolah tersebut.

Kini ia dapat melanjutkan pendidikan tanpa harus membayar biaya SPP. Keluarganya hanya menanggung biaya seragam sekolah.

“Program ini sangat membantu keluarga saya. Ayah sekarang bisa lebih fokus bekerja karena tidak lagi memikirkan biaya sekolah saya,” ujarnya.

Sebelum kembali bekerja di Tangerang, ayahnya selalu berpesan agar Hafidz belajar dengan sungguh-sungguh, tidak gengsi bersekolah di mana pun, memilih lingkungan pergaulan yang baik, serta menjaga adiknya.

Saat diminta menyampaikan pesan untuk sang ayah, suara Hafidz terdengar bergetar.

“Buat ayah, semangat kerjanya. Jaga kesehatan. Semoga Allah selalu melimpahkan rezeki buat ayah,” ucapnya.

Cerita serupa dialami Muhammad Hasbi Fabiansyah (15), siswa baru kelas X jurusan Pengembangan Perangkat Lunak dan Gim (PPLG) di SMK PGRI Pandeglang.

Remaja asal Desa Gunungputeri, Kecamatan Banjar, Kabupaten Pandeglang itu juga gagal diterima di SMA Negeri 6 Pandeglang melalui jalur domisili.

Hasbi tinggal bersama ibunya, Lilis Herlis, yang berjualan jajanan dan minuman di warung kecil. Ia baru mengetahui sekolah tersebut mengikuti Program Sekolah Gratis setelah melihat spanduk di depan sekolah saat hendak mendaftar.

“Saya baru tahu waktu mau daftar. Ternyata sekolahnya gratis, cuma bayar seragam,” kata Hasbi.

Menurut dia, program tersebut meringankan beban ekonomi keluarganya karena ibunya tidak lagi harus membayar SPP setiap bulan.

Hasbi juga mengaku memahami sulitnya biaya pendidikan karena kakak kandungnya pernah terpaksa menghentikan kuliah akibat keterbatasan ekonomi.

Hafidz dan Hasbi merupakan dua dari puluhan ribu siswa yang memperoleh manfaat Program Sekolah Gratis Pemerintah Provinsi Banten.

Program tersebut memberikan kesempatan kepada siswa yang tidak diterima di sekolah negeri untuk tetap melanjutkan pendidikan di sekolah swasta tanpa dibebani biaya SPP.

Pada Tahun Ajaran 2025/2026, tercatat sebanyak 801 sekolah swasta jenjang SMA, SMK, dan Sekolah Khusus (SKh) bergabung dalam program tersebut. Sebanyak 60.705 siswa telah terverifikasi sebagai penerima manfaat.

Di balik capaian itu, tersimpan ribuan kisah keluarga yang akhirnya dapat melanjutkan pendidikan anak-anaknya tanpa dihantui persoalan biaya. Bagi Hafidz, program sekolah gratis bukan sekadar kebijakan pemerintah, melainkan harapan yang membuat impiannya tetap hidup.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *