.
itoday.id | Serang – Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) resmi meluncurkan sosialisasi perdana Program Sehati di Provinsi Banten. Program hasil kolaborasi dengan World Bank dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini disiapkan untuk memperkuat ekonomi hijau, ketahanan pangan, serta mendorong desa menjadi lebih mandiri dan tangguh menghadapi perubahan iklim.
Kick-off Program Sehati mendapat sambutan antusias dari sekitar 600 peserta yang terdiri atas kepala desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), hingga perwakilan pemerintah kecamatan dari berbagai wilayah di Banten.
Dalam program tersebut, pemerintah menyiapkan dana stimulus hingga Rp2,5 miliar untuk setiap desa. Dana ini merupakan anggaran khusus yang berada di luar alokasi Dana Desa reguler, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai tambahan modal pembangunan sesuai kebutuhan dan potensi masing-masing desa.
Program Sehati diarahkan untuk memperkuat ekonomi berbasis lingkungan melalui pengembangan ekonomi hijau dan peningkatan ketahanan pangan lokal. Langkah ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang mendorong tercapainya swasembada pangan, termasuk penguatan produksi protein seperti ikan sebagai pelengkap swasembada beras dan jagung.
Tak hanya berfokus pada sektor pangan, Program Sehati juga menempatkan pelestarian lingkungan sebagai prioritas utama. Melalui program ini, pemerintah menargetkan lahirnya Desa Tanggap Iklim dan Desa Bebas Sampah melalui berbagai skema pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.
Menteri Desa menjelaskan, Program Sehati juga akan mendorong hilirisasi berbagai produk unggulan desa. Dengan pengolahan yang lebih baik, produk lokal diharapkan memiliki nilai tambah yang lebih tinggi sehingga mampu meningkatkan pendapatan masyarakat dan memperkuat perekonomian desa.
“Selain meningkatkan kesejahteraan warga, hilirisasi produk desa juga diyakini dapat memperbesar perputaran ekonomi di tingkat desa, membuka lebih banyak lapangan kerja, hingga mendorong desa memiliki kemampuan untuk menembus pasar ekspor secara mandiri di masa mendatang,” ujar Yandri Susanto.
Untuk mekanisme penyaluran dana stimulus, pengelolaannya akan dilakukan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Besaran dana yang diterima setiap desa akan disesuaikan dengan kualitas proposal yang diajukan. Proposal tersebut terlebih dahulu diverifikasi oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) kabupaten sebelum diteruskan ke Kemendes PDTT, Bappenas, dan World Bank untuk proses penilaian.
Senior Specialist Development World Bank, Jessica Ludwig Maarof, menyampaikan apresiasinya atas terjalinnya kolaborasi yang kuat antara World Bank dan Kemendes PDTT dalam merancang Program Sehati. Menurutnya, sinergi tersebut menjadi langkah penting untuk memperkuat pembangunan desa yang berkelanjutan.
Jessica juga menilai keterlibatan BRIN memiliki peran strategis dalam membantu desa menghadapi tantangan global, mulai dari perubahan iklim hingga ketidakpastian ekonomi. Dengan dukungan riset dan inovasi, potensi desa diharapkan dapat berkembang secara optimal sekaligus memiliki daya tahan yang lebih kuat menghadapi berbagai tantangan di masa depan. (*)

















