Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
ADV ITODAY
NewsOpinionPemerintahan

Warga Karundang Tengah Serang Gelar Tradisi Tolak Bala Rebo Wekasan

×

Warga Karundang Tengah Serang Gelar Tradisi Tolak Bala Rebo Wekasan

Sebarkan artikel ini
Warga Karundang Tengah Serang Gelar Tradisi Tolak Bala Rebo Wekasan
Example 468x60

itoday.id | Serang – Warga RT 01 dan RT 02 RW 02, Karundang Tengah, Kota Serang, Banten, kembali menggelar tradisi tolak bala pada Rebo Wekasan di akhir bulan Safar. Tradisi yang digelar di Musala Al Hidayah itu diisi dengan salat tolak bala, doa bersama, hingga dudusan menggunakan air yang telah didoakan.

Ketua RT 01 Karundang Tengah, Bian, mengatakan salat tolak bala menjadi salah satu rangkaian tradisi yang rutin dilakukan warga. Salat tersebut dikerjakan sebanyak empat rakaat dengan dua kali salam.

Example 300x600

Menurutnya, salat dapat dilakukan secara berjamaah di musala maupun sendiri di rumah. Tradisi itu dilakukan warga sebagai bentuk ikhtiar memohon perlindungan dari musibah atau bala.

“Katanya Allah itu menurunkan 327 bala. Karena Allah Maha Rahman dan Rahim, kita salat bala itu untuk menghindari bala, musibah, untuk menghindari musibah,” ujar Bian.

Dalam pelaksanaan berjamaah, terdapat warga yang memimpin gerakan salat agar jamaah dapat mengikuti secara bersama-sama. Sementara bacaan dalam rukun salat tetap dilakukan masing-masing.

Bagi warga yang tidak dapat hadir di musala, salat tersebut tetap diperbolehkan untuk dilakukan secara mandiri di rumah.

Setelah salat, warga melanjutkan kegiatan dengan doa bersama. Makanan yang sebelumnya disiapkan warga turut didoakan sebelum kemudian dibagikan kepada masyarakat.

Rangkaian tradisi kemudian dilanjutkan dengan dudusan. Air yang digunakan terlebih dahulu didoakan bersama sebelum dipakai oleh warga.

“Airnya didoakan. Jadi pertama kita berdoa dulu, sebelum dimandiin, sebelum ke sini,” kata Bian.

Bian menjelaskan dudusan merupakan bagian dari tradisi warga untuk memohon keselamatan. Air yang telah didoakan kemudian digunakan warga sesuai kebutuhan.

Salah seorang warga, Niah, mengatakan tradisi tersebut merupakan warisan dari orang tua dan telah dilaksanakan secara turun-temurun setiap Rebo Wekasan di akhir bulan Safar.

“Tradisi ini setiap tahunnya turun-temurun dari kakek moyang kita. Orang-orang tua kita sudah tua, jadi kita penerusnya. Enggak pernah ditinggalin kalau tiap Rebo Wekasan akhir,” ujar Niah.

Niah menyebut kegiatan itu oleh warga dikenal sebagai dudusan atau tolak bala. Warga yang ingin mengikuti dudusan dapat datang dengan membawa ember untuk mengambil air yang telah disiapkan.

“Yang mau saja. Orang mana pun kalau mau ke sini, pada bawa ember. Intinya minta keselamatan,” katanya.

Air dudusan disiapkan bersama bunga yang sebagian dibeli dari pasar dan sebagian diambil dari lingkungan sekitar kampung. Bunga tersebut direndam sejak malam sebelum pelaksanaan.

Menurut Niah, air dudusan digunakan warga untuk berbagai keperluan, termasuk diminum maupun dibawa untuk kendaraan.

Tradisi tersebut tidak hanya diikuti warga RT 01 dan RT 02 RW 02 Karundang Tengah. Warga dari luar lingkungan juga diperbolehkan datang untuk mengikuti dudusan.

Bagi masyarakat Karundang Tengah, salat, doa bersama, pembagian makanan, dan dudusan merupakan satu rangkaian tradisi tolak bala yang terus dipertahankan. Selain menjadi bentuk ikhtiar memohon keselamatan, tradisi ini juga menjadi cara warga menjaga warisan budaya dari generasi sebelumnya.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *