itoday.id | Tangerang Selatan – Gubernur Banten Andra Soni menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Banten untuk mendukung pembangunan Moda Raya Terpadu (MRT) di wilayah Banten. Menurutnya, kehadiran MRT akan menjadi bagian penting dalam mengembangkan potensi daerah serta memperkuat konektivitas dengan Jakarta.
“Pemprov Banten siap mendukung semua sesuai regulasi. Sesuatu yang sama dalam pikiran kita yakni pengembangan potensi,” ujar Andra Soni saat membuka Rapat Koordinasi Rencana Pembangunan MRT di Kantor Gubernur Banten, Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan, Senin (8/9).
Rakor yang dipandu Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Banten Tri Nurtopo itu membahas rencana pembangunan jalur MRT di dua koridor. Jalur utara akan menghubungkan Kembangan–Balaraja sebagai bagian dari Fase II East-West Line Cikarang–Balaraja. Sementara jalur selatan dirancang dari Lebak Bulus menuju Serpong sebagai pengembangan layanan jalur existing North-South Line Lebak Bulus–Bundaran HI–Kota–Ancol.
Andra Soni menegaskan, Pemprov Banten berinisiatif agar pembangunan jalur Balaraja bisa berjalan paralel. Namun ia mengakui perlunya keterlibatan berbagai pihak, termasuk Pemerintah DKI Jakarta dan PT MRT Jakarta. “MRT ini sebenarnya barangnya Jakarta, sudah sampai Lebak Bulus, mau kita ajak masuk ke wilayah Banten. Banten butuh Jakarta, Jakarta butuh Banten. Dengan bersama, kita bisa mewujudkan MRT ini,” katanya.
Wali Kota Tangerang Sachrudin menilai pembangunan MRT memerlukan kolaborasi lintas daerah, baik Pemprov Banten maupun Pemprov Daerah Khusus Jakarta. Ia juga mengusulkan agar dilakukan penataan kawasan, sosialisasi, serta forum dialog agar masyarakat merasa memiliki proyek tersebut.
Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Pilar Saga Ichsan menyebut rencana jalur Lebak Bulus–Serpong sebagai kabar baik. “Dari 1,4 juta penduduk Tangsel, sekitar 30 persen bekerja di Jakarta. MRT akan sangat membantu mobilitas warga,” ujarnya.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Tangerang juga mendorong agar jalur Lebak Bulus–ICE BSD diperpanjang hingga Lippo Karawaci. Jalur ini diyakini mampu menghubungkan kawasan pengembang besar di Tangerang.
Dari sisi pemerintah pusat, Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api Kemenhub Arif Anwar menjelaskan bahwa jalur Kembangan–Balaraja sudah masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN). Namun, ia menambahkan, pembangunan Fase II MRT belum memiliki arahan pasti dari Presiden maupun Menteri Perhubungan. “Dengan kondisi fiskal saat ini, dimungkinkan para investor ikut terlibat. Tapi perlu kajian legal, terutama jika MRT dikerjakan bersama pengembang dalam bentuk konsorsium,” jelas Arif.
Direktur Utama MRT Jakarta Tuhiyat mengungkapkan, pihaknya tengah melakukan kajian pembangunan jalur di Tangerang Selatan yang ditarget rampung akhir 2025. Ia optimistis keterlibatan swasta akan mendorong pengembangan kawasan bisnis di sekitar stasiun. Dari hasil kajian, jalur Kembangan–Balaraja sepanjang 29 kilometer akan memiliki 14 stasiun, dengan lima stasiun di Kota Tangerang dan sembilan di Kabupaten Tangerang.
Wakil Ketua DPRD Banten Yudi Wibowo menambahkan, kehadiran MRT diyakini akan meningkatkan perekonomian masyarakat. Ia mencontohkan manfaat rel ganda KRL yang sudah dirasakan masyarakat Lebak dalam mendukung aktivitas ke Tangerang Raya.
Rakor turut diikuti para pengembang kawasan di Tangerang Raya yang dilalui jalur MRT. Mereka menyatakan dukungan terhadap rencana pembangunan transportasi massal tersebut.

















