itoday.id | Serang – Ardi dan adiknya, Holikul Amin, masih menanti hasil seleksi Program Sekolah Rakyat di Kota Serang. Keterbatasan ekonomi membuat kakak beradik tersebut sempat terancam putus sekolah dan kini menggantungkan harapan agar bisa melanjutkan pendidikan melalui program pemerintah itu.
Keduanya tinggal bersama sang nenek, Wacih, di Lingkungan Karundang Kolektor, Kelurahan Karundang, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang. Mereka diasuh neneknya setelah ditinggal kedua orang tua.
Kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas membuat biaya pendidikan menjadi beban yang sulit dipenuhi. Karena itu, Ardi dan Holikul Amin diusulkan menjadi calon peserta Program Sekolah Rakyat.
Namun hingga kini, keduanya masih menunggu hasil verifikasi. Proses seleksi belum rampung karena terdapat perbedaan data kependudukan.
Holikul Amin tercatat dalam Kartu Keluarga (KK) milik neneknya yang masuk kategori desil satu. Sementara Ardi masih terdaftar dalam KK orang tuanya yang masuk kategori desil tiga.
Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), Farhah Syibli, mengatakan proses pendampingan terhadap kedua anak tersebut telah dilakukan sejak Mei 2026.
Menurutnya, kondisi Ardi di lapangan tidak sesuai dengan data administrasi. Meski masih tercatat dalam KK orang tuanya, Ardi telah lama tinggal bersama neneknya.
“Dari hasil pendampingan, keduanya memiliki risiko tinggi putus sekolah karena keterbatasan biaya,” kata Farhah.
Sementara itu, Wacih mengaku tidak mampu membiayai pendidikan ketiga cucunya seorang diri. Ia berharap Ardi dan Holikul Amin diterima di Sekolah Rakyat agar tetap bisa mengenyam pendidikan.
“Harapan saya mereka bisa diterima supaya tetap sekolah dan punya masa depan yang lebih baik,” ujarnya.
Harapan serupa disampaikan Ardi. Ia mengaku ingin bersekolah di Sekolah Rakyat karena memahami kondisi ekonomi sang nenek yang tidak mampu membiayai pendidikannya.
“Saya ingin masuk Sekolah Rakyat karena nenek tidak mampu membiayai sekolah saya,” ujar Ardi.
Saat ini, proses seleksi peserta Program Sekolah Rakyat di Kota Serang masih berlangsung. Dengan kuota yang terbatas, Ardi dan Holikul Amin berharap dapat lolos sebagai peserta sehingga bisa melanjutkan pendidikan tanpa terbebani biaya.

















