.
itoday.id | SERANG – Pemerintah Kota Serang melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) memperkuat perencanaan pembangunan berbasis lingkungan melalui Kajian Gas Rumah Kaca (GRK) Kota Serang 2026. Kajian tersebut memetakan sumber emisi sekaligus mengidentifikasi sektor yang perlu menjadi prioritas dalam upaya menekan emisi di Kota Serang.
Kajian mencakup seluruh wilayah administratif Kota Serang seluas 266,18 kilometer persegi yang terdiri dari enam kecamatan dan 67 kelurahan. Inventarisasi dilakukan terhadap 5 sektor utama yaitu sektor energi, sektor proses industri dan penggunaan produk atau IPPU (Industrial Processes and Product Use), sektor pertanian, sektor kehutanan dan penggunaan lahan atau LULUCF (Land Use, Land-Use Change and Forestry), serta sektor limbah.
Kepala Bapperida Kota Serang W. Hari Pamungkas mengatakan kajian tersebut diperlukan untuk memberikan gambaran mengenai sumber dan besaran emisi gas rumah kaca di daerah. Hasil inventarisasi kemudian dapat digunakan sebagai dasar dalam menentukan program dan kebijakan pengurangan emisi.
“Melalui kajian ini, kita ingin mengidentifikasi, mengukur, dan menganalisis emisi gas rumah kaca di Kota Serang. Dari hasil tersebut kemudian dapat diketahui sumber emisi yang paling dominan dan menjadi dasar dalam menyusun rekomendasi program maupun kebijakan daerah,” ujar Hari.
Kajian menggunakan pendekatan Tier 1 dalam menginventarisasi kelima sektor emisi. Data hasil inventarisasi juga diarahkan untuk mendukung pelaporan melalui SIGN-SMART dan pemantauan aksi penurunan emisi melalui AKSARA.
Hasil inventarisasi menunjukkan total emisi GRK Kota Serang pada 2025 mencapai 4.202,37 kilo ton CO₂e. Sektor energi menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 93,5 persen, disusul pertanian 2,87 persen, kehutanan 2,23 persen dan limbah 1,41 persen.
Hari mengatakan hasil kajian tidak berhenti pada penghitungan emisi, tetapi diarahkan untuk menentukan sektor yang membutuhkan intervensi kebijakan lebih lanjut.
“Data ini menjadi penting karena pemerintah daerah tidak hanya mengetahui berapa besar emisi yang dihasilkan, tetapi juga dapat melihat sektor mana yang paling dominan sehingga intervensi penurunannya dapat diarahkan secara lebih tepat,” ujar Hari.
Ia mengatakan, peningkatan kualitas data menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan inventarisasi GRK ke depan. Kajian mencatat masih terdapat sejumlah ketidakpastian, terutama pada data konsumsi bahan bakar transportasi, aktivitas industri, tutupan lahan, pengelolaan TPA dan air limbah domestik.
“Ke depan, integrasi data antarperangkat daerah dan para stakeholder terkait perlu terus diperkuat. Dengan data yang semakin lengkap dan akurat, inventarisasi dan perencanaan penurunan emisi dapat dilakukan dengan lebih baik,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Bapperida Kota Serang Desi Viratinia menjelaskan, hasil inventarisasi menunjukkan transportasi menjadi kategori emisi yang paling dominan. Emisi dari sektor transportasi mencapai 3.903,12 kilo ton CO₂e atau 92,88 persen dari total inventarisasi emisi Kota Serang.
“Hasil inventarisasi menunjukkan sektor energi berupa kategori transportasi merupakan kontributor terbesar emisi GRK Kota Serang. Karena itu, sektor ini menjadi salah satu perhatian utama dalam penyusunan strategi mitigasi dan pembangunan rendah karbon,” ujar Desi.
Besarnya emisi pada kategori transportasi dalam kajian berkaitan dengan dominasi kendaraan pribadi berbahan bakar fosil, pertumbuhan kendaraan yang tinggi serta keterbatasan layanan transportasi umum.
Karena itu, sejumlah rekomendasi diarahkan pada peningkatan efisiensi lalu lintas, penguatan angkutan umum, peningkatan efisiensi bahan bakar, pengembangan kawasan rendah emisi (low emission zone), serta secara bertahap mendorong penggunaan kendaraan rendah emisi atau kendaraan listrik.
Desi mengatakan pengendalian emisi juga tidak hanya diarahkan pada sektor transportasi. Sektor pertanian, kehutanan dan limbah turut memiliki sumber emisi yang perlu ditangani melalui kebijakan yang sesuai dengan karakteristik masing-masing sektor.
“Setiap sektor memiliki sumber dan karakteristik emisi yang berbeda. Karena itu, langkah mitigasi perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing sektor, mulai dari pengelolaan transportasi, limbah, penguatan praktik pertanian rendah emisi, maupun perlindungan dan peningkatan ruang terbuka hijau,,” katanya.
Untuk sektor limbah, kajian merekomendasikan penguatan pengelolaan sampah melalui pengembangan TPS3R, bank sampah, pengomposan, serta pengelolaan air limbah domestik melalui IPAL komunal.
Sementara pada sektor kehutanan dan penggunaan lahan, upaya mitigasi diarahkan pada perlindungan ruang terbuka hijau, penanaman pohon, rehabilitasi sempadan sungai, pengembangan hutan kota dan koridor hijau.
Kajian GRK Kota Serang 2026 selanjutnya menjadi salah satu pijakan Bapperida dalam menghubungkan data lingkungan dengan arah perencanaan pembangunan. Penguatan integrasi data antarperangkat daerah dan peningkatan kualitas inventarisasi diharapkan membuat kebijakan penurunan emisi semakin terukur dan tepat sasaran. (Adv)

















