itoday.id, Taiwan |

Bagi orang muslim di Taiwan, Masjid Agung Taipei di Section 2 No. 62, Sinsheng South Road, Distrik Daan menjadi barometer dalam mengembangkan ilmu agama.

Di masjid bersejarah itu kerap digelar pengajian secara rutin untuk anak-anak dan para Tenaga Kerja Indonesia.

Masjid dua lantai ini dibangun oleh Jenderal Pai Cong Si di lahan seluas 2.747 meter persegi. Ada beberapa ruang yang digunakan pengurus masjid untuk kegiatan mengaji dan berbuka puasa. Ada juga tempat beristirahat tamu-tamu kehormatan yang berkunjung ke masjid yang dibuat pada 1947 dan dibangun ulang sekitar pada 1959 ini.

Ada dua menara kembar setinggi 20 meter dengan kubah besar ditengahnya yang mempertegas bangunan tersebut. Saat memasuki area masjid, wisatawan atau jamaah akan disambut penjaga yang sangat ramah. Para tamu Allah itu dipersilahkan melihat seluruh bagian masjid, tentunya dengan aturan yang sudah dibuat. Begitu masuk pintu masjid, terlihat sisa kemegahan dari bangunan. Di Indonesia disebut sebagai bangunan cagar budaya, tetapi di Taiwan masjid disebut monumen.

Tak hanya itu, masjid yang menjadi salah satu bangunan cagar budaya yang sangat dijaga keaslian bentuk bangunannya ini juga membuka pintu lebar-lebar untuk kedatangan wisatawan. Di sini wisatawan muslim bisa beribadah sekaligus menambah khasanah tentang perkembangan Islam di Taiwan.

SINDOnews mendapat kesempatan mengunjungi masjid tersebut dari Taiwan Tourism Bureau pada Sabtu 30 Desember 2019. Saat berkunjung, sudah ada belasan wisatawan dari Jepang yang lebih dahulu datang. Jepang dengan Taiwan memang memiliki emosi historis sehingga tak sedikit warga Jepang yang berkunjung ke Taipei.

Asal tahu saja, warga Indonesia juga memiliki peranan penting terhadap eksistensi muslim di Taiwan. Ini tak lepas dari keberadaan Tenaga Kerja Indonesia yang menikah dengan warga setempat.Salah satu pengurus masjid, Santo Ouyang menceritakan, ada warga Taiwan yang menjadi mualaf di masjid ini karena mendapatkan jodoh orang Indonesia yang menetap di Distrik Daan. Santo sendiri merupakan WNI kelahiran Kalimantan Barat.

Sudah 9 tahun dia menetap di Taiwan dan dia merupakan mualaf. Pemuda berusia 23 tahun itu mengaku dirinya mendapat hidayah sejak usia 14 tahun. Namun bukan perkara mudah baginya untuk menjadi muslim karena di usia baya, dia berada dilingkungan yang mayoritas nonmuslim. “Bahkan ayah saya juga tak ingin saya jadi orang Islam,” katanya.

Tekanan keras dari keluarga itu membuat Santo hijrah ke Taiwan, menyusul ibunya yang lebih dahulu berada di negara tersebut. Justru di negeri yang jauh dari kampung halamannya ini, Santo banyak belajar ilmu agama di Masjid Agung Taipei hingga dia membantu kegiatan masjid, bahkan menjadi tour guide jika ada wisatawan dari Indonesia yang datang.

Di masjid ini, para turis tak akan kesulitan untuk melangkah karena tiga bahasa sebagai pemandu, yakni bahasa Taiwan, Inggris, dan Indonesia. “Ini pakai bahasa Indonesia dengan nama Masjid Agung karena orang keturunan Indonesia menjadi mayoritas muslim di Taiwan,” terang Santo.

“Ada pelajaran agama di sini setiap hari Jumat dan Ahad. Belajar membaca Alquran mulai dari Iqro, pesertanya dari anak-anak SD hingga SMA. Sedangkan pengajian digelar setiap bulan yang diinisiasi oleh para TKI di Taiwan,” ujar dia.

Tak jarang mereka mengundang ulama dari Indonesia untuk mengisi tausiah dalam pengajian tersebut. Penceramahnya, seperti Ustad Maulana dan Buya Yahya.

Masjid yang cukup megah di Taiwan ini mampu menampung 1.000 jamaah. Pemerintah Taiwan juga mengizinkan penggunaan pengeras suara saat azan maupun khotib memberikan ceramah ketika salat Jumat.

Tolerasni beragama di Taiwan juga begitu terasa ketika datang waktu salat. Biasanya, para pekerja akan diberi izin untuk melaksanakan salat Jumat berjamaah di masjid. Sayangnya, jumlah umat Islam asli Taiwan turun, pernah mencapai 200 ribu sekitar dua dasawarsa lalu, kemudian menyusut menjadi 60 ribu orang.

Berdasarkan data terakhir, jumlah penduduk Taiwan mencapai 23 juta jiwa dengan agama mayoritas Budha yang dianut 8 juta orang, kemudian agama Tao dianut sekitar 7,6 juta orang. Selanjutnya Katolik Roma 298 ribu jiwa. Sedangkan Islam dianut sekitar 58 ribu jiwa atau sekitar 0,3 persen dari populasi di Taiwan.

Kendati Islam sebagai agama minoritas, Taiwan menjadi lebih ramah terhadap umat muslim karena sebagian besar mal, stasiun kereta, bandara, serta terminal bus sudah menyediakan musala.

Taiwan sendiri kini memiliki tujuh masjid yang tersebar dibeberapa lokasi, Seperti Masjid Agung Taipei di Xinxheng Road Distrik Daan (Taipei City), Masjid Kebudayaan Taipei di Xinhai Road Distrik Zhongzheng (Taipei City), Masjid Longgang di Longdong Road, Distrik Zhongli (Taoyuan City), Masjid At-Taqwa di Distrik Dayuan (Taoyuan City), Masjid Taichung di Distrik Nantun (Thaicung City), Masjid Tainan di East Districk (Tainan City), dan Masjid Kaohsiung di jianjung Road, Distrik Lingya (Kaohsiung City).

Penulis :Red