itoday.id | Jakarta. Teleskop Luar Angkasa Hubble berhasil mendeteksi komet raksasa, yang disebut memiliki inti komet terbesar yang pernah diamati. Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), mengatakan teleskop tersebut merekam komet yang sedang terbang menuju Matahari.

Dalam studi yang dipublikasikan di The Astrophysical Journal Letters tahun 2022, para astronom mengonfirmasi keberadaan komet yang disebut C/2014 UN271 atau Bernardinelli-Bernstein itu.

Seperti dilansir dari Science Alert, Rabu (13/4/2022) ukuran komet diklaim 50 kali lebih besar dari rata-rata komet. Sementara untuk lebarnya hampir 140 kilometer, yang membuatnya dikenal sebagai komet raksasa.

“Komet ini benar-benar puncak gunung es bagi ribuan komet yang terlalu redup untuk dilihat di bagian Tata Surya yang lebih jauh,” ujar astronom di University of California, Los Angeles (UCLA), David Jewitt.

“Kami selalu menduga komet ini pasti besar, karena sangat terang pada jarak yang begitu jauh. Sekarang kami memastikan (dugaan tersebut),” sambung dia. Berdasarkan studi yang dipimpin Man-To Hui dari Macau University of Science and Technology, komet Bernardinelli-Bernstein berasal dari awan oort.

Awan ini merupakan material berbentuk bola dari benda-benda es di sekitar Matahari. Komet itu juga dijuluki sebagai “bola salju kotor” lantaran terdiri dari material batu, serta puing-puing lainnya.

Adapun komet Bernardinelli-Bernstein diprediksi tidak akan membahayakan Bumi, sebab kecepatan luncurnya 33.500 km/jam, yang artinya sangat jauh dari planet kita. Sementara itu, para astronom menghitung ukuran komet C/2014 UN271 dalam resolusi tertinggi.

Mereka juga memakai perhitungan sebelumnya, dengan pengamatan dan pemodelan Teleskop Luar Angkasa Hubble. “Kami mengonfirmasi bahwa C/2014 UN271 adalah komet periode panjang terbesar yang pernah terdeteksi,” tulis peneliti.

Bahan Pembentuk Komet Awal penemuan komet Bernardinelli-Bernstein Komet raksasa yang baru diketahui ini pertama kali teramati di tahun 2010. Seperti dilansir dari Space, Rabu (13/4/2022) setelahnya astronom Pedro Bernadinelli dan Gary Bernstein menemukan objek tersebut dalam data yang dikumpulkan Dark Energy Survey di Cerro Tololo Inter-American Observatory di Chili.

Kemudian, di tahun 2021 penemuan komet Bernardinelli-Bernstein atau C/2014 UN271 diumumkan ke publik. Sejak penemuannya, komet Bernardinelli-Bernstein dipelajari dengan berbagai perangkat, termasuk memanfaatkan teleskop darat serta teleskop luar angkasa seperti Hubble.

Sementara itu, titik orbit komet Bernardinelli-Bernstein diperkirakan mencapai 3,2 miliar km dari Matahari, di mana objek ini memiliki suhu sekitar minus 211 derajat Celcius. “Kami menduga komet itu mungkin cukup besar, tetapi kami membutuhkan data terbaik untuk mengonfirmasi hal ini,” ujar penulis studi.

Selanjutnya, mereka menggunakan teleskop Hubble untuk mengambil lima foto komet pada 8 Januari 2022 dan terbukti bahwa komet Bernardinelli-Bernstein adalah yang terbesar saat ini.

Sebelumnya, komet C/2002 VQ94 yang terlihat pada tahun 2002 adalah komet terbesar yang pernah ditemukan dan diperkirakan memiliki diameter 96 km. NASA mengatakan, arah komet menuju Matahari selama lebih dari satu juta tahun. Sedangkan yang paling dekat dengan Bumi jaraknya sekitar 1,6 miliar km yang tidak bisa dicapai setidaknya hingga tahun 2031.

Sayangnya, pengamatan singkat yang berhasil ditangkap teleskop Hubble tidak mencakup panjang perjalanan komet Bernardinelli-Bernstein selama di luar angkasa. Para ilmuwan memiliki waktu sekitar satu dekade untuk meningkatkan peluang pengamatan selanjutnya, untuk mempelajari lebih lanjut tentang C/2014 UN271 saat komet semakin dekat dengan Bumi. (Red)