Pemuda dan Perubahan

itoday.id, Banten | ‘‘Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia!‘‘ demikian kata-kata yang begitu populer yang keluar dari lisan Presiden RI Pertama, Ir. Ahmad Soekarno. Kata-kata itu tentu mengandung makna khusus yang ditujukan terutama kepada para pemuda Indonesia.

Jika kita analisa, memang Soekarno saat itu sedang berjuang dengan dibantu oleh para pemuda Indonesia, mulai dari perjuangan pra-proklamasi kemerdekaan, saat proklamasi kemerdekaan, hingga usai proklamasi kemerdekaan. Peran para kaum intelektual muda Indonesia saat itu begitu sentral menentukan arah perpolitikan nusantara. Bahkan Soekarno sendiri, memulai pergerakannya sejak ia masih berusia muda ketika masih terdaftar sebagai Mahasiswa Sarjana di Jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung.

Keterlibatan para pemuda bukanlah hal yang aneh dalam setiap peristiwa besar di dunia. Hal itu karena para pemuda memiliki beberapa karakteristik yang khas sehingga perannya begitu vital dalam setiap pergerakan. Karakteristik-karakteristik itu di antaranya adalah semangat yang tinggi, idealisme yang kuat dan fisik yang masih bugar. Selain itu, para pemuda juga relatif masih terbuka terhadap perubahan alias tidak konservatif. Sifat yang terakhir disebut itu sangat penting dalam sebuah pergerakan, karena keterbukaan akan membawa kepada kreatifitas dan inovasi yang merupakan dua sifat wajib jika ingin terus berkembang, apakah itu di dunia politik, pemerintahan ataupun di dunia entrepreneurship.

Lalu, sifat-sifat positif dari para pemuda itu hanya dapat berfungsi secara maksimal jika terdapat sistem dan wadah yang menyalurkan potensi mereka dengan optimal. Para pemuda itu pada hakikatnya membutuhkan lingkungan dan sistem yang kondusif agar berkembang dengan baik. Jangan sampai, kekuatan dan potensi mereka dikekang dan dibatasi oleh sistem birokrasi yang rumit, budaya senioritas dan kultur formalitas yang berlebihan.

Jika kita sedikit berkaca kepada negara-negara yang sudah maju, misalnya negara-negara di Eropa Barat, maka kita akan mendapatkan bahwa pada umumnya sistem birokrasi di negara-negara maju itu fleksibel, efisien dan efektif sehingga memberikan ruang yang terbuka lebar untuk para pemuda mereka yang berkualitas. Budaya senioritas pun di sana sudah lama ditinggalkan. Lalu kultur formalitas yang berlebihan sudah tidak lagi mewarnai kehidupan mereka. Maka tidaklah aneh jika di negara-negara maju pada umumnya regenerasi berjalan dengan baik dan persentase keterlibatan para pemuda dalam pembangunan negara terus meningkat. Sehingga tidak heran pula jika kita mendengar berita-berita bahwa banyak negara-negara maju di dunia dipimpin oleh para politisi yang usianya relatif masih muda. Di Austria misalnya, kita pernah mendengar ada seorang Menteri Luar Negeri berusia 27 tahun bernama Sebastian Kurz yang kemudian menjadi Kanselir (Kepala Pemerintahan) Austria saat ia berusia 31 tahun. Lalu di Swedia, ada Aida Hadzialic yang baru berusia 27 tahun saat dilantik menjadi Menteri Pendidikan Swedia pada 2014. Di Republik Irlandia, kita pun pernah mendengar nama Simon Harris yang dilantik sebagai Menteri Kesehatan Republik Irlandia saat usianya masih 29 tahun. Lalu di Italia, ada Matteo Renzi yang dipercaya menjadi Perdana Menteri Italia saat ia masih berusia 39 tahun. Kemudian di Prancis, kita mengenal politisi muda bernama Emmanuel Macron yang menjadi orang nomor satu di Prancis sejak ia berusia 40 tahun dan sebelumnya menjadi Menteri Ekonomi Prancis saat ia masih berusia 37 tahun. Mereka semua dipercaya untuk memimpin negara mereka karena mereka dinilai memiliki kapasitas dan kompetensi yang mumpuni, kreatifitas dan inovasi yang tinggi dan semangat juang serta idealisme yang kuat untuk membangun negeri mereka.

Indonesia, meskipun belum masuk kategori negara maju, mesti segera berbenah diri di antaranya dengan lebih melibatkan potensi para pemudanya. Apalagi, Indonesia termasuk negara dengan jumlah persentase pemudanya yang cukup tinggi. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Republik Indonesia, pada 2018 Indonesia memiliki setidaknya 63,82 juta pemuda atau hampir seperempat dari jumlah total penduduk Indonesia. Jumlah tersebut tentu sebuah potensi besar jika kualitasnya bisa dioptimalkan sehingga terjadi keseimbangan antara kuantitas dan kualitas. Setelah itu, pemerintah wajib menciptakan sebuah lingkungan dan sistem, di antaranya dalam birokrasi dan pemerintahan, yang fleksibel, efisien dan efektif dalam memaksimalkan peran para pemuda untuk pembangunan negeri yang sudah berusia hampir tiga perempat abad ini.

Sudah waktunya negeri ini bergerak maju sehingga suatu saat nanti bisa berdiri sejajar dengan negara-negara maju di dunia. Indonesia yang begitu luas secara geografis, strategis secara demografis dan begitu kaya akan alamnya harus segera bangkit di antaranya dengan cara memaksimalkan peran para pemudanya. Pemuda yang berfikir maju, mempunyai sifat Kritis Konstruktif, Pemuda yang terus berjuang maju, bukan pemuda yang hanya mencari Nama Kebesarannya, Pemuda yang betul betul bisa menjadi Pelopor dan teladan untuk kemajuan Negeri.

Mudah-mudahan, peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober beberapa hari lalu dapat menjadi momentum kebangkitan kembali Negeri Indonesia dengan dinahkodai oleh para pemudanya yang berkualitas.

Penulis Pembaca : Rochman