itoday.id, Malang | Penyediaan benih bawang merah yang bermutu secara kuantitas sangat terbatas setiap tahunnya, yaitu sekitar 15–16%/tahun. Untuk mendapatkan benih dengan hasil tinggi semakin banyak petani yang menggunakan benih umbi dari bawang konsumsi asal impor yang harganya relatif mahal.

Penggunaan umbi secara terus menerus oleh petani juga dapat menyebabkan semakin menurunnya mutu umbi karena akumulasi penyakit tular benih yang berakibat menurunnya produktivitas bawang merah. Salah satu cara untuk memecahkan masalah ketersediaan bibit berkualitas adalah melalui inovasi teknologi budidaya bawang merah dengan menggunakan biji botani atau True Shallot Seed (TSS).

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang telah melakukan pengembangan klaster bawang merah di Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang sejak tahun 2016. Dalam upaya meningkatkan produktivitas bawang merah pada tahun 2019 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang menginisiasi budidaya bawang merah melalui metode TSS bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jatim.

Penanaman bawang merah melalui metode TSS dilakukan pada lahan Demplot Kelompok Tani Karya Bhakti I Desa Purworejo Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang dengan luas lahan 1500 m2. Varietas bawang merah yang ditanam yaitu varietas Trisula dan Bima Brebes.

Panen perdana yang dilakukan pada hari Senin 4 November 2019 ini, menunjukkan hasil yang menggembirakan, karena dengan dalam satu biji yang disemai bisa menghasilkan 4 hingga 10 umbi bawang. Teknik yang dilakukan para petani adalah dengan merendam biji benih bawang menggunakan air kelapa muda.

Menurut Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang, Azka Subhan,”dibandingkan dengan benih umbi tradisional, penggunaan dengan metode TSS mempunyai beberapa keunggulan, antara lain yaitu kebutuhan benih lebih efisien sekitar 7,5 kg per ha dibanding dengan umbi yaitu sekitar 1,5 t/ha yang menghasilkan tanaman lebih sehat, serta tingkat produktiivitas yang lebih tinggi dibanding benih umbi.”

Dalam rangka pengembangan bawang merah di Kelompok Karya Bhakti I dengan metode TSS akan diproduksi umbi bawang merah yang bisa digunakan untuk konsumsi dan produksi umbi mini sebagai model perbenihan bawang merah.

Hasil dari panen bawang merah dari lahan Demplot diperkirakan yaitu 3,5 ton untuk luas lahan demplot 1.500m2 yang terdiri dari 10 petak lahan setara dengan 24,5 ton per hektar.

Sementara itu, bagi ketua Kelompok Tani Karya Bakti 1, Deny Kasianto mengatakan,”dengan metode TSS ini, para petani bawang di Desa Purworejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, masih bisa memanen Bawang Merah meski bukan musimnya. Sehingga, panen bawang kali ini sangat membantu perekonomian para petani bawang, dimana pada tahun-tahun sebelumnya mereka harus merubah jenis tanaman selain bawang, seperti sawi, tomat maupun cabai.”

“Mereka berharap, balai penelitian pertanian juga mampu mengembangkan bawang varietas asli Ngantang untuk dijadikan biji benih, sehingga varietas bawang asli Ngantang tidak punah,” Pungkas Deny.

Penulis : Adt