itoday.id, Jakarta | Siapa sangka perekonomian dunia yang morat marit belakangan ini disebabkan mahluk sangat kecil tidak terlihat mata tapi sangat ganas menyerang manusia di berbagai belahan dunia. Dampaknya luar biasa merusak tidak hanya mematikan manusia, tapi juga membuat perekonomian dunia nyaris lumpuh.

Mahluk sangat kecil ini bernama virus Corona (COVID-19) telah membuat pasar saham dunia berdarah-darah, potensi gagal bayar dan kredit macet mengancam sektor perbankan dan keuangan, ditambah lagi sektor riil nyaris lumpuh tak bergerak, lantaran terganggunya proses produksi dan terahambatnya lalu lintas ekspor dan impor.

Menteri Keuangan RI Sri Mulyani mengakui bahwa tekanan ekonomi global yang disebabkan mewabahnya virus Corona ini dampaknya sangat berat dan kompleks dibandingkan krisis keuangan yang terjadi pada 2008.

Krisis yang terjadi pada 2008 hanya memukul sektor perbankan dan pasar modal, namun krisis yang terjadi sekarang ini menghantam hampir semua sektor tidak hanya perbankan, pasar modal, dan sektor jasa dan pariwisata namun sektor riil juga babak belur dan nyaris lumpuh.

Industri pasar modal Indonesia saat ini boleh dibilang sedang berdarah-darah, “terluka” oleh virus Corona, terlebih setelah Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan wabah virus Corona telah menjadi pandemi yang menakutkan, menyebabkan indeks saham dunia jatuh bertumbangan.

Investor saham “kabur” atau panic selling dengan melepas semua portofolio investasinya, mereka ingin memegang uang kas atau mengalihkan investasinya pada instrumen investasi yang rendah tingkat risikonya (safe haven).Tekanan jual investor yang masif ini menyebabkan harga-harga saham terjun bebas dan indeks saham jatuh hampir di semua pasar saham dunia.

Data di Bursa Efek Indonesia (BEI) per 3 Januari 2020 (awal munculnya isu virus Corona) tercatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bertengger di level 6.323,466 poin dengan nilai kapitalisasi pasar saham (market capitalization) Rp7.293,14 triliun. Sedangkan kurs rupiah terhadap dolar AS saat itu masih di level Rp13.885.

Dibandingkan per 11 Maret 2020 atau setelah meluasnya wabah virus Corona ini di belahan dunia, IHSG jatuh ke posisi 5.154,105 poin dan nilai kapitalisasi pasar saham menyusut tinggal Rp5.959 triliun serta kurs rupiah terhadap dolar AS juga melemah ke posisi Rp14.374.

Ini artinya dalam waktu singkat hanya kurang dari dua bulan setengah IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) merosot tajam 18,49 persen, dan nilai kapitalisasi pasar atau nilai saham perusahaan yang tercatat di BEI menyusut Rp1.354,14 triliun atau tergerus 18,3 persen. Sementara nilai kurs rupiah terhadap dolar AS terdepresiasi sekitar 3,5 persen.

Sementara data dari Bank Indonesia (BI) seperti yang diungkapkan Gubernur BI Perry Warjiyo, dana asing investor asing yang keluar (outflow) periode Januari-Februari 2020 mencapai Rp30,3 triliun, terdiri dari Rp26,2 triliun di SBN (surat berharga negara) dan Rp4,1 triliun dari pasar saham.

Penulis : Red