itoday.id, Tangsel | Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) nampaknya harus merelakan kader yang menjadi jagoannya pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Tangsel tahun ini kandas lantaran tak dapat pasangan dan dukungan partai lain. Sebelumnya, PSI Tangsel menyatakan sikap mendukung Muhamad yang tak lain adalah Sekda Tangsel berpasangan dengan kadernya, Azmi Abubakar.

Berdasarkan pantauan awak media, spanduk Azmi Abubakar bahkan telah terpasang di banyak sudut kota dengan nuansa dan warna khas, mirip dengan desain alat peraga kampanye Sekda Muhammad. Sepintas nampak bahwa keduanya memberi signal akan berpasangan. Namun di tengah jalan, Partai Gerindra dan PDI Perjuangan justru memasangkan Muhammad dengan Rahayu Saraswati, yang tak lain adalah keponakan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, sebagai pasangan calon. Praktis, PSI kehilangan kesempatan untuk memasang kader terbaiknya dalam gelaran pesta demokrasi lima tahunan itu.

Pengamat Politik dari Forum Literasi Demokrasi (FLD) Tangsel, Irham Muzakir berpendapat, PSI harus menentukan arah dukungan pasca Muhamad-Saras resmi disung PDIP dan Gerindra. Menurutnya, tak ada pilihan bagi PSI selain segera menentukan pilihan koalisi. Sebab mau tak mau, PSI tak mungkin lagi mengusung kadernya pada Pilkada Tangsel tahun ini. Sementara pasangan calon sudah mengerucut pada tiga poros. “Jika PSI terlambat ambil sikap, maka akan kehilangan momentum dan hanya akan jadi pelengkap bahkan di pilkada berikutnya tidak bisa ikut bertanding,” kata Irham saat dimintai komentar, Selasa (04/08).

Irham menyampaikan, dampak dari munculnya duet Muhammad-Saras menyebabkan tersingkirnya Azmi Abubakar, padahal sejak jauh hari Azmi telah dikenalkan kepada publik dan membangun komunikasi intensif dengan jaringan tradisional Muhammad. Pada banyak hal berkait dengan taktis kampanye, termasuk didalamnya penyusunan tagline dan pilihan desain alat peraga, banyak dibuat oleh kubu Azmi dan PSI.

“Kasihan Azmi tersingkir gara-gara ambisi politik Muhammad. Walau Sekda Muhammad terlihat keberatan di awal karena isu beda agama dengan calon wakilnya, tapi pada akhirnya tak ada pilihan selain terpaksa menerima kenyataan politik yang ada,” ujarnya.

Ketika ditanya kemungkinan rekomendasi PSI pada Pilkada Tangsel, Irham menilai kecil kemungkinannya PSI mendukung duet Muhamad-Saras, meskipun sempat terjalin kedekatan dan komunikasi yang intens antara PSI dengan Muhammad. Menurut Irham, lebih mungkin PSI masuk dalam koalisi Benyamin-Pilar ataupun Nur Azizah-Ruhama Ben.

“Tapi kalau prediksi saya jika PSI membaca dengan teliti bagaimana peta politik di Tangsel, maka pilihan yang paling rasional adalah masuk ke gerbong Benyamin-Pilar. Terlepas mau masuk lewat mana dan jalur yang mana, yang jelas jika hitungannya ingin menjadi partai pemenang, pilihannya ya bergabung dengan petahana. Tapi ya keputusan netral juga pilihan yang memungkinkan walau risiko tidak bisa ikut pilkada berikutnya,” pungkasnya.

Penulis : Red